P

ada Minggu pagi, disaat para jurnalis dan pakar talkshow sibuk mendiskusikan kunjungan Wakil Presiden Mike Pence dan Senator Lindsay Graham, ke pusat penahanan, Donald Trump mengubah topik pembicaraan dengan pernyataan yang lebih sensitif.

FILE PHOTO: U.S. Representative Omar addresses a small rally on immigration rights at the temporary installation of a replica of the Statue of Liberty at Union Station in Washington<br>FILE PHOTO: U.S. Representative Ilhan Omar (D-MN) addresses a small rally on immigration rights at the temporary installation of a replica of the Statue of Liberty at Union Station in Washington, U.S. May 16, 2019. REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo

Ketika terjadi pembahasan mengenai kondisi menyedihkan yang sedang dihadapi oleh para pria, wanita, dan anak-anak imigran, Trump justru memfokuskan perhatian dengan menyarankan bahwa wanita anggota kongres kulit berwarna (non-kulit putih) AS adalah orang-orang yang harus secara sukarela mendeportasi diri untuk kembali ke negara asal mereka.

Sangat menarik melihat wanita Kongres Demokrat “Progresif”, yang berasal dari negara-negara yang pemerintahannya merupakan bencana total, yang terburuk, paling korup dan tidak kompeten di mana saja di dunia (bahkan jika mereka memiliki fungsi pemerintahan pada umumnya sekalipun), kini bicara lantang …

Mengapa mereka tidak kembali dan membantu memperbaiki tempat-tempat yang benar-benar rusak dan penuh dengan kejahatan dari manapun mereka datang.” kata trump.

Tiga dari empat wanita yang jelas-jelas ia targetkan adalah Perwakilan Alexandria Ocasio-Cortez, Ayanna Pressley, Rashida Tlaib, dan Ilhan Omay – lahir di Amerika Serikat. Dan Omar, yang keluarganya melarikan diri dari Somalia dan datang ke Amerika Serikat ketika dia masih kecil, telah menjadi warga negara AS di seluruh kehidupan dewasanya.

Mereka adalah orang Amerika, dan ini adalah negara mereka. Tentu saja, dalam pandangan dunia Trump, tempat kelahiran dan kewarganegaraan wanita yang sebenarnya adalah tidak penting.

Sebagai gantinya, komentarnya menyatakan bahwa “orang Amerika yang sebenarnya” justru dua hal: kulit putih dan Kristen. Dan seluruh kepresidenannya telah berupaya untuk mendorong pandangan ini dengan menghubungkan simbol-simbol Amerika dengan nasionalisme etnis dan agama yang eksklusif.

Trump telah menebar ketakutan dan ancaman yang dirasakan oleh beberapa orang kulit putih Amerika dengan melekatkan pada simbol-simbol negara, bahkan sampai secara harfiah memeluk bendera negara, sebagai cara meletakkan klaim “Amerikanis Asli” untuk dirinya sendiri dan para pendukungnya. Dengan kata lain ia menganggap bahwa orang-orang yang menentangnya dan kepresidenannya, terutama mereka yang berkulit hitam atau beragama lain – merupakan versi Amerika yang lebih rendah.

hal tersbut yang menyebabkan dia mengatakan kepada empat anggota kongres wanita kulit berwarna – warga negara Amerika yang mewakili jutaan warga negara Amerika – untuk “kembali” ke negara asalnya. Trump telah membajak agama sipil Amerika, sebuah konsep yang seharusnya berfungsi sebagai dasar untuk persatuan bagi warga negara dan menggunakannya dalam upaya untuk lebih memecah belah kita sepanjang garis ras, partai, dan agama atas nama kemanfaatan politik.

1 COMMENT

  1. […] hal tersbut yang menyebabkan dia mengatakan kepada empat anggota kongres wanita kulit berwarna – warga negara Amerika yang mewakili jutaan warga negara Amerika – untuk “kembali” ke negara asalnya. Trump telah membajak agama sipil Amerika, sebuah konsep yang seharusnya berfungsi sebagai dasar untuk persatuan bagi warga negara dan menggunakannya dalam upaya untuk lebih memecah belah kita sepanjang garis ras, partai, dan agama atas nama kemanfaatan politik. (indotelegraph) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here